Cerpen Kidung
Kidung Kembang Ayuningtyas
Wanita diujung lorong diantara rak-rak buku. Walau samar-samar dari
kejauhan, aku dapat meilihat dengan jelas wanita diujung lorong itu memiliki
bentuk tubuh yang seksi, terlebih lagi rambutnya yang diikat dengan menyisakan
poni diatas alis matanya, baju kemeja putih panjang yang dilipat seperempat
tangan, dan celana panjang kain berwarna abu-abu, dengan sepatu casual yang
membuat dia terlihat semakin menarik. Tingginya sekitar 167 cm, dengan tubuh
yang langsing. Dia masih sibuk membaca sebuah buku, disampingnya ada laptop dan
beberapa buku. Sambil membaca judul-judul buku diantara rak-rak yang ada di
perpustakaan.
Aku bergegas mendekatinya, akhir-akhir ini aku sering pergi keperpustakaan
untuk menyelesaikan tesisku, perpustakaan pusat kampus ini memliki tiga lantai,
lantai pertama terdiri dari ruang buku yang hampir dikatakan lebih lengkap dari
pada perpustakaan yang ada di fakultas, lantai dua tempat bagi mahasiswa untuk
membaca dan mengerjakan tugas karena tersedia beberapa meja dan kursi, dan
lantai atas adalah ruang hasil-hasil penelitian dari TA, Skripsi, Tesis, dan
Desertasi. Selain tata ruang perpustakaan yang nyaman, didalam juga sejuk
karena memiliki fasilitas pendingin ruangan yang baik, perpustakaan ini juga
memiliki fasilitas jaringan internet yang super cepat. Sebenarnya aku kuliah di
perguruan tinggi negeri di surakarta, jurusan sastra indonesia. Tapi buku-buku
disana kurang lengkap jadi aku lebih sering ke Jogja. Karena dulu aku
menyelesaikan strata satu jurusan sastra indonesia di kampus yang perpustakaannya
aku kunjungi sekarang ini, di sini buku-buku referensi lebih lengkap jadi
memudahkan untuk mencari kajian pustaka penelitianku. Namaku Adarma Biantara,
teman-teman kampus lebih biasa memanggilku Darma, walaupun keluargaku lebih
biasa memanggil Ian. Tinggi badanku 171cm, dengan berat badan 64kg. Teman-teman
perempuan bilang aku tidak ganteng, mereka lebih mengambarkan aku sosok yang
manis dengan bulu mata yang lentik, selain manis mereka mengatakan aku cerdas,
aku dikenal sangat pandai berbicara, lucu, dan juga memilik wawasan yang luas.
Berbincang dengan Ku tidak membosankan, karena selalu ada tema-tema yang
menarik mungin itulah sebabnya banyak perempuan yang tertarik, walau mereka
sebenarnya tidak pernah tau banyak tentang apa-apa yang aku bicarakan, mereka
asal percaya saja seperti guru yang mengajari sesuatu hal ke murid-muridnya.
Kecuali Kidung,wanita yang aku temui di ujung lorong perpustakaan
saat ini. Dia tidak pernah memberi komentar tentangku. Sesekali dia cuman
bilang aku ini keras kepala dan suka terburu-buru. Kidung, selain cantik dan
memiliki tubuh yang seksi, Dia juga terkenal pintar. Penampilanya yang feminim,
dewasa, dan memiliki kematangan intelektual. Berbeda dari wanita-wanita lain
yang hobinya jalan-jalan dan nonton drama korea, Kidung memiliki hobi membaca
buku, jalan-jalan ke toko buku dan perpustakaan. Karena hobinya itu Dia
memiliki pengetahuan yang luas. Menurutku nilai Kidung A+ sempurna untuk jadi
istri.
“uda lama Neng?”dengan suara rendah agak berbisik
“belum, baru satu jam”
ekspresi wajah yang cemberut, tetapi tidak mengurangi kadar kecantiknya.
“maaf”
“iya gapapa”.
Alarm perpustakaan sudah berbunyi pertanda perpus akan segera tutup,
kami segera membereskan buku-buku lalu menata kembali buku dirak-rak sesuai
dengan tempanya. Aku keluar lebih dahulu, lalu menyusul Kidung dibelakang
karena dia harus meminjam beberapa Buku.
“Ian, uda makan belum? Aku lapar nih”
“yuk, makan dimana?”
“cari siomay yuk”
“yuk”
Siomay adalah makanan favorit aku dan Kidung, karena memiliki hobi
dan kesukaan yang sama yaitu membaca buku dan makan siomay. Hubungan Ku dan
Kidung berkembang menjadi candu, dekat tapi tak memiliki status pacaran. Selain
ke perpustakaan kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar nonton
bioskop, jalan-jalan ke toko buku, atau datang ke pameran buku-buku indie dan
ngopi sembari diskusi tentang buku.
Tapi setalah aku melanjutkan kuliah di Solo dan Kidung tetap
melanjutkan S2 di Jogja, kami hanya bisa bertemu Sabtu-Minggu ketika aku ke
Jogja.
...
Ketika di Solo aku lebih merindukan Jogja, disini terasa sepi dan
menjenuhkan. Selain tidak memiliki teman karena kesibukan masing-masing, aku
juga tidak memiliki inspirasi untuk mengerjakan tesis. Hari-hari di Solo hanya
aku isi untuk menonton TV dan membaca beberapa buku yang aku pinjam atau aku
beli, itupun kadang terasa berat hati untuk membaca karena sulit konsentrasi
memhami isinya. Suatu pagi aku sedang membaca buku, tiba-tiba Kidung mengirim
pesan singkat,
“Ian, kamu di Jogja atau di
Solo?”
“iya, aku di Solo Neng, ada apa?” panggilan Neng ku ambil dari nama
Ningtyas. Ning yang kuubah menjadi Neng.
“bosen”
“bosen kenapa?
“biasa, Heeeem” terdengar desahan kidung melepaskan kesal
“yaudah, main ke Solo besok
ada pameran buku , sekalian besok jalan-jalan ke Tawangmangu, gimana?”
“oke, aku naik kereta pagi ya, kamu jemput aku jangan telat”
“oke sayang,”
“apa,?”
“hehe, maaf typo”
“dasar Penjahat”
“hahaha”
Panggilan sayang yang aku dambakan, Kidung memamng cantik dan pintar.
Laki-laki waras mana yang tidak tertarik dengannya. Termasuk aku. Tapi apa
daya, aku terlalu pesimis untuk mengungkapkan perasaan kepadanya, rasanya 90%
ditolak. Bisa jalan bareng sudah cukup senang, toh orang-orang pacaran juga
ujungnya jalan-jalan dan makan bareng.
Setelah subuh,
...
Kring..,kring..,Kidung memanggil.
“Iy Neng?”
“aku uda dikereta,”
“ok”
Perjalan dari Jogja ke Solo menghabiskan waktu satu jam, Dia pergi
ke Garasi untuk memanaskan mesin motor, motor tua berwarna hitam dengan basci
mesin gl 10 yang sudah dimodifikasi menjadi motor CB ini mememang harus
dipanasi setiap pagi. Waktu sudah menunjukan pukul 6 kurang lima belas menit.
Perjalan dari kos Darma menuju Stasiun Solo Balapan 15 menit, perkiraan kereta
sampai pukul. Dengan kecepatan motor yang tak lebih dari 40 km, akhirnya Darma
sampai distasiun.
Dari kejauh terlihat Kidung berjalan menuju gerbang stasiun, kali
ini rambutnya dia biarkan terurai, menggunkan baju berwarna kream dan celana
kain hitam dengan sepatu casualnya, dan kali ini terlihat berbeda karena kidung
menggunakan lipstik berwarna merah yang tidak terlalu cerah. Seperti biasa aku
selalu kagum dengan penampilan Kidung yang cantik dan menarik. Kidung berhasil
membuatku membayangkan suatu saat dia menjadi istriku, darinya lahir
anak-anakku. Sambil tersenyum sumringah.
“heh,?” kidung mengagetkan lamunan Ku.
“ngelamunin apa si?”
“kamu”
“hish apaan si. ngaco”
“kamu cantik.”
“hish gombal, yuk”
Aku langsung menstater kaki motornya, lalu denga pelan menarik pedal
gas motornya menuju Kos.
“sarapan apa langsung ke Kos?”
“terserah”
“apa langsung kepelaminan?”
“ iiih apaan si” wajahnya sewot sambil mencubit perutku, jok motorku
tidak panjang, jadi siapapun yang duduk dibelakang terpaksa atau suka rela
harus nempel atau memeluk.
“kamu kenapa si?aneh’’
“hahaha, aneh kenapa?”
“pagi-pagi uda ngeluarin jurus buaya“
“hahaha, sejak kapan pakai gincu?”
“gincu” sambil menatap spion
motor
“iya”
“jelek ya?”
“jelek? Ya kali, kamu disuruh pakai apapun tetep cantik Neng.”
“hish apaan si, gombal, gombal, gombal, busuk” wajahnya memerah
penuh gemas sambil memeluk badanku.
Gila. Jantungku berdebar mau copot, gak biasa-biasanya. 5 tahun
kenal baru kali ini dipeluk Kidung. rasanya ku ingin berkata “mimpi apa aku
semalam” gak kuat. Perjalanan 15 menit terasa setengah detik.
Sesampainya dikos, aku langsung mandi, sarapan terus berangkat ke
pameran buku. Siang setelah dzuhur kami melanjutkan pergi ke Tawangmangu.
....
Sepulangnya dari tawangmangu, hujan turun sangat deras.
“Neng, berhenti dulu apa langsung pulang?”
“uda malem, langsung aja pulang”
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Aku dan Kidung
memutuskan untuk menerjang hujan agar sampai kos tidak terlalu malam.
Dia tampak kedinginan. Pelukan yang tadi pagi terasa hebat jadi
biasa saja. Sepanjang perjjalanan Kidung terus memeluk tanpa berkata
sedikitpun. Butuhwaktu 3 jam untuk sampai kekos.
Sesampainya di Kos segera aku membuka pintu rumah dan mengambil handuk
untuk Kidung, terlihat dia sudah menggigil.
“kamu bawa baju ganti?”
“tidak” Suaranya samar sambil menggigil, dengan cepat Aku mengambi
handuk,l baju, kaos dan celana .
“kamu pakai ini dulu”
Kidung hanya menganguk lalu pergi ke kamar mandi.
Aku yang sudah mandi duluan bergegas membuatkan teh hangat untuk
Kidung yang sudah Kedinginan. Sekeluarnya dari kamar mandi Kidung langsung
masuk kekamar. Seketika Aku yang sudah duduk di dalam kamar kaget, wanita yang
selama ini dikaguminya yang selalu rapi menggenakan pakaian dengan rambut
diikat sedang berdiri didepanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya
yang tadinya dilapisi dempul dan gincu berubah polos dan natural, dia terlihat
kembali anak SMA. Ditambah kulitnya yang putih mulus dan terawat. Gila, mimpi
apa aku semalam.
Kidung tampak malu karena semua pakaiannya basah, tak terkecuali
pakaian dalamnya. Aku hanya bisa memberi kaos dalamku sebagai pengganti.
“nih teh hangat”
“makasih?”
“mau pulang sekarang apa besok?” kalo sekarang keretanya sudh tidak
ada, kamu harus naik bus”
“nginepa aja”
“nginep?”
“iya, emang kenapa?”
“ya gak papa” tapi ini benar-benar gila, aku hanya tidak
membayangkan aku tidur satu kamar dengan perempuan yang bukan istriku. Dan yang
lebih gila lagi Kidung cuman pakai koas, yang membuat sisi keperempuanya
terlihat begitu jelas. Gila, gila,gila, pikirku.
Malam ini setan telah berhasil tertawa, dia benar-benar menang untuk
menghasutku, entah dengan Kidung. sebelum tidur Kidung meminta untuk mematikan
lampu. Kami tidur bersebelahan, jantungku berdebar begitu kencang, pikiranku
sudah tidak jelas lagi. Aku dan Kidung tidur satu kamar, satu ranjang dengan
ruangan yang gelap.
Tampaknya Kidung juga merasakan apa yang aku rasakan, terasa jelas
nafasnya terengah –engah. Aku mencoba mengendalikan diriku,
“Neng”
Kidung hanya diam dan tidak menjawab. Aku mencoba memegang tanganya,
membalas peganganku dengan erat. Entah setan apalagi ini, nafsu dan gairah kami
rasanya memuncak. Kuberanikan untuk mencium pipinya. Kidung diam. Gila, dia
tidak marah sama sekali. Aku dan Kidung mulai berciuman, sangat lama saling
membalas. Aku tak tau peris seperti apa, tapi kami sudah tidak mengenakan
sehelai kainpun. Keringat bercampur, menetes dan mendesah. Air mata mengalir
dan diam. Ini malam terpanjang dalam
hidup ku, bahkam dalam hidupnya.
Telah kupetik bunga, “Kembang Kidung Ayuningtyas”
Comments
Post a Comment